Cerpen Romantis : Pengiring Biola




Pengiring Biola



Semburat oranye telah menapaki langit sore. Kegelapan yang bersembunyi perlahan-lahan mulai mendekat. Bel usang seklah bergetar pertanda kesenangan pelajar telah dimulai.
            Seketika kaki lekas menarik langkah kea rah mesin minuman di pinggiran taman sekolah. Agh, soda lemon mengucur deras membasahi tenggorokan, menghilangkan dahaga yang tertahan. Saat itu, kutangkap alunan nada-nada biola seakan membawa hati dan tubuh mengikuti aliran kedamaian dan mengajakku menemuinya.
Dua anak dan sesosok gadis belia di tengahnya. Memainkan iringan permai dengan biola mungilnya. Mata kecilnya yang cantik dengan rambut pirang yang menjuntai hingga ke pinggang membuat diriku terhipnotis akan dirinya. Seolah masa terasa berhenti sejenak.
            Hilir angin bergerak dengan lantangnya sore itu. Menghempas tubuh pemain biola. Roknya tersingkap, dibuatnya malu karena tatapan ketaksengajaan ini. Tamaran keras melayang ke pipiku, dibuatnya bekas merah jua.
“A..Aku tak sengaja, maaf,”ucapku dengan penuh malu.
            Tak membalas permintaan maafku, ia pergi tanpa kata apapun. Begitulah kesan pertamaku bertemu dengannya.
            Angket kejuaraan piano regional terbujur di atas meja kelasku. Menghadangku belajar. Hanya satu hal yang meyemakkan kepala, seorang pengiring biola. Pengiring untuk mempersani permainan pianoku esok.
            Tanda waktu tertunjuk angka tujuh, guru mengumumkan akan datangnya seorang murid baru. Entah kenapa temanku terkagum-kagum pada parasnya seolah disihir olehnya. Tak hirau ku padanya. Namun, saat kutampakkan wajah hinaku padanya, ialah gadis si biola mungil!
“ Hai teman, namaku Kaori. Salam kenal,” ucap gadis itu.
“Kaori, duduklah di samping Arima.”
“Eh..?”Wajahnya mulai memerah dan tertegun malu.
            Entah ini adalah sebuah takdir, atau hanya kebetulan. Guru menyuruhnya  duduk di sampingku. Degub jantungku mengheningkan suasana kelas. Getar nadi semakin kencang rasanya. Semakin kupandangi wajahnya, semakin kuat rasa ini. Apa ini yang namanya kasmaran? Agket menatapku dengan wajah ejekannya, seolah mengajak tanganku untuk menuliskan nama, Kaori.
“Angket? Kaulah yang terpilih, Kaori!” Tanpa kata berbau pengenalan, aku langsung bercakap tak karuan.
            Ia terperangah menatapku dengan keheranan. Tak tau harus berucap apa.
“Angket untuk apa?”
“Kau akan jadi pengiring biolaku di kejuaraan piano regional, tolong ya?” Pintaku dengan penuh harap.
“Eh…baiklah”
            Sekali mendayung, dua tiga pulau kulampaui. Kudapat seorang pengiring biola dan dapat bermain musik bersama seorang yang kusuka, rupanya.
“Baiklah, kalau gitu nanti pulang ke rumahku ya, kita latihan bareng,” ajakku.
“Baik,” ucapnya dengan senyumnya yang terlukis di bibirnya.
            Hari perlombaan telah tertulis di lembaran kertas. Melodi yang dimainkan para peserta kejuaraan piano sangat harmonis. Emosinya sangat kuat terasa menggetarkan nurani. Namun, Kaori tak kunjung tiba. Aku termenung di sisi tembok gedung sembari menanti kedatangannya. Bingung, ketakutan, sedih merasuk ke tubuh, tak tau apa yang kurasakan. Partitur lagu yang telah bertau dengan jiwaku, entah kenapa sirna begitu saja, mungkin diterpa angina.
            Hanya seorang yang mengacuhkan dirikukala itu, Tsubaki namanya. Ia teman sejatiku hingga saat ini. Tangan lembutnya memberikanku sedikit percikan api semangat untuk berjuang.
“Kamu pasti bisa, Arima”
            Segera kuangkat diri dan menyiapkan diri di tengah panggung. Juri Nampak bingung akan hilangnya pengiring biola. Persawan pun jua, mereka menampakkan raut muka kebingungan. Suara-suara cibrannya mengaung-ngaung di ruangan megah ini.
“Penonton diharap tenang,” Pinta juri dengan nada tinggi.
            Cukup 10 detik ‘tuk meredamkan suasana. Symphony No. 40 – A. Mozart, bersamanyalah aku beradu tangan. Senyuman dari mulut mereka terbang ke arahku. Mungkin permainanku sangat harmonis. Di tengah raut sukacita, aku meratap getir dan termenung, terngiang-ngiang akan wajah jelita Kaori.
            Tak kusangka, symbol dekressendo mengingatkanku ‘tuk mengakhiri semua ini. Aplaus pujian para spectator melayang. Cukup, aku tak perlu mendapatkannya lagi. Larilah Arima, jumpai Kaori. Pinta piano hitam itu berceloteh dengan tutsnya yang putih dan bersih.
            Pergilah diriku mencari dimana keberadaan tubuh Kaori. Hanya 5 menit berlari, kusampai di rumahnya. Bangunan yang menjadi teman tidurnya, kosong nan sunyi.
“Kaori, Kaori, dimana kamu?” Pertanyaan ini menggema di setiap sudut bangunan itu. Kucoba memasukinya. Hanya sebuah gelas pecah di atas tikar yang dapat menjawab semua kekacauan ini.
“Aku tahu dimana ia sekarang.”
            Matahari kian menjauhi hari ini. Ternyata benar, kutatap seenggok banyangan seorang di balik ayunan taman sekolah. Hal itu menuntunku bergegas bersua dengannya. Air matanya berlinang dan membasahi pipi merahnya. Aku pun segera duduk di sampingnya dan bertanya akan masalah yang menimpa dirinya.
“Tak perlu kau campuri urusanku, kembalilah kamu ke rumahmu, aku akan mengatasi ini semua sendiri!” Ucapnya dengan suara tinggi.
            Tak tau apa yang harus kulakukan, segera kupeluk dirinya dengan erat. Hanya ini yang dapat kulakukan. Dia terdiam dan tak bersuara. Tangisannya sekarang mulai terbendung oleh hangatnya suasana.

“Coba berceritalah Kaori, mari mengatasi hal ini bersama-sama,” Sembari melepas pelukan dan mengusap air matanya.
“Maaf telah membuatmu khawatir. Maaf telah membuatmu sedih akan tindakanku padamu. Maaf aku tak bisa menjadi pengiring biolaku.”
“Aku juga minta maaf tak dapat mengerti  keadaanmu.”
            Ia bercerita akan semua kejadian yang menimpanya. Ternyata, ia mengalami kisah yang dapat membuat sangat terpukul. Ayah ibunya mengalami sebuah keretakan hubungan. Sebuah keluarga yang sebelumnya bersatu kini telah bererak. Kata cerai telah terlafal dari mulut tulang punggung keluarga itu.
“Bersabarlah Kaori. Kamu akan melewati ujian ini. Kelak kamu akan memanen buahnya,” Nasehatku.
“Iya benar. Maaf, Arima. Aku sangat egois. Kukira aku dapat mengatasi ini semua sendiri.”
“Kamu jangan merasa sendiri. Aku akan selalu bersamamu. Mari pulang hari mulai gelap,” ajakku.
            Kami meninggalkan taman kesedihan ini. Kugapai tangannya agar ia tak dapat bersusah hati lagi. Sungguh bahagia kurasa dapat mengusir awan kelabu yang menyelimuti Kaori. Bekas air mata memang masih melekat di pipinya. Namun, bekas itu tak menunjukkan pilunya. Sekarang, semua kesedihan itu sudah hampir sirna, bak daun yang dimakan ulat.
            Tamparan keras kala itu memang masih terasa di pipiku, namun akan kuungkapkan semuanya.
“Kaori, aku ingin berkata sesuatu.”
“Boleh.”
“Aku menyukaimu.”
            Matahari telah sepenuhnya sirna. Hanya cahayanya yang tersisa. Malam akan datang tak pada waktunya. Menyisakan kehangatan sore hari, seperti hangatnya kisah kami.

Incoming search :
kumpulan cerpen cinta sedih
cerpen cinta romantis
cerpen cinta singkat
cerpen cinta dan persahabatan
cerpen cinta segitiga
cerpen cinta pertama
cerpen cinta sejati
cerpen cinta romantis banget
cerpen romantis sedih
cerpen romantis korea
contoh cerpen cinta

No comments

Powered by Blogger.